Oleh: KH Rakhmad Zailani Kiki

Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL)

Banyak contoh negara, seperti di Suriah, Libya, Irak, Yaman  dan lainnya, yang karena ketidakpatuhan masyarakat terhadap pemerintahnya membuat negara tersebut terjebak dalam konflik, perpecahan dan perang saudara berkepanjangan.  Yang sangat sengsara dan menderita tentu masyarakat yang tidah patuh itu juga.

Karenanya, pemerintah di dalam ajaran Islam memiliki posisi yang istimewa. Bagi kaum Muslimin, mentaati pemerintah menjadi kewajiban; setelah kewajiban taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat ke-59:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً

yang artinya:  “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.

Di Surat An-Nisaa ayat ke-59 tersebut terdapat kata ulil amri. Banyak tafsir mengenai kata ulil amri ini, salah satunya menurut Imam al-Mawardi di dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Mawardi Al-Nukat Wa Al-Uyun, menyebutkan ada empat pendapat dalam mengartikan kalimat “ulul amri” pada QS An-Nisa:59, yang pertama,  ulil amri bermakna umara atau para pemimpin yang konotasinya adalah pemimpin masalah keduniaan atau pemerintah.

Dalam penafsiran bahwa ulil amri adalah pemerintah di sebuah wilayah atau negara ini, maka ketaatan kita sebagai Muslim kepada pemerintah adalah sebuah kewajiban, apapun bentuk pemerintahannya, mau khilafah, monarki atau demokrasi, asalkan pemerintahan tersebut menjalankan prinsip keadilan seperti yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah. Pernyataan Imam Ibnu Taimiyah ini disetujui juga oleh Abdul Wahab Khallaf. Menurut Abdul Wahab Khallaf,  penulis kitab Ilm Ushul Al-Fiqh, Islam memberikan kebebasan kepada umatnya untuk memilih dan menentukan sendiri bentuk dan corak pemerintahan yang diinginkan, asal tidak menyimpang dari prinsip-prinsip keadilan yang telah diatur secara eksplisit dalam syari’at.

Walau  kita sebagia umat Islam memiliki kewajiban untuk mentaat pemerintah, namun bukan berarti  kita tidak boleh mengkritik pemerintah. Di dalam ajaran Islam, mengkritik pemeriintah bukanlah perkara yang dilarang. Namun, dalam melakukan kritik terhadap pemerintah, kita harus berpegang pada prinsip-prinsip yang bersumber dari ajaran Islam itu sendiri. Jangan sampai ketika ketika mengkritik pemerintah, malah jatuh kepada perkara bughat atau memberontak kepada pemerintah. Padahal, hukuman bagi pelaku bughat sangat keras dalam Islam.

Mnimimal, menurut ajaran Islam, ada lima prinsip yang harus dipegang dan diamalkan ketika kita melakukan kritik terhadap pemerintah, yaitu:

Pertama,  mengkritik pemerintah harus dengan data yang benar dan untuk menegakkan keadilan, dan ini sebaik-baiknya bentuk jihad. Hadits Dari Abu Said Al Khudri ra. bahwa Rasulullah  SAW bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

Yang artinya:“Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang ‘adil/benar di depan penguasa atau pemimpin yang zalim.”

(HR. Abu Daud No. 4344. At Tirmidzi No. 2265)

Kedua, mengkritik pemerintah harus yang membangun dan mengoreksi kekurangan guna kemajuan bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan sendiri. Apalagi dengan melakukan hinaan,  cacian dan ujaran kebencian. Karena Rasulullah SAW sangat melarang hal tersebut. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

“siapa saja yang  menghina pemimpin Allah di bumi, Allah akan menghinakannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ketiga, dalam mengkritik pemerintah yang terpenting adalah tersampaikannya materi kritik kita. Rasulullah SAW mengajarkan di antaranya, tata cara, menyampaikannya tidak di hadapan publik, tapi disampaikan langsung menemuinya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاِنِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ

Yang artinya: “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah dia menasihati secara terang-terangan. Akan tetapi, ambillah tangannya dan menyepilah dengannya. Jika sang penguasa menerima (nasihatmu), itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (HR.Imam Ahmad  dan Imam Ath-Thabrani)

Keempat, jika  kita memang terpaksa menyampaikan kritik terhadap pemerintah harus di depan publik, apalagi di era media sosial saat ini, maka kritikan kita tidak boleh menimbulkan kebencian, cacian, menyulut untuk terjadinya perusakan fasilitas umum.  Apalagi melakukan pemberontakan, walapun pemerintah telah berbuat kedzaliman. Hal tersebut sangatlah tidak dibenarkan. Habib Abdillah bin Husein Baalawy dalam kitabnya Is’adurrafiq menyatakan bahwa termasuk hal-hal yang diharamkan adalah setiap ucapan yang memicu seseorang untuk berbuat tidak baik, mencaci, menghina, jahat ataupun merusak. Terkait pemerintah yang melakukan kedzaliman, Imam Abu Ja’far al-Thahawi di dalam kitabnya berjudul Al-Aqidah At-Thahawiyyah menyatakan bahwa paham Islam Ahlussunnah Wal Jama`ah tidak memiliki konsep menggulingkan pemerintahan yang sah, meskipun mereka telah berbuat kedzaliman.

Kelima, tidak memaksakan kritik kita terhadap pemerintah dan bersikap sabar seraya terus berdzikir dan bertaqarrub kepada Allah SWT. Hadits dari  Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَرِ هَ مِنْ أَمِیرِ هِ شَیْئًا فَلْیَصْبِرْ فَإِنَّھُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِیتَةً جَاھِلِیَّةً

Yang artinya: “Barang siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, hendaklah dia bersabar. Sebab, tiada seorang pun keluar (memberontak) dari penguasa sejengkal saja kemudian mati dalam keadaan demikian, maka dia mati seperti mati jahiliyyah.” (HR Imam Al-Bukhari)

Di hadits lain, Rasulullah SAW juga bersabda:

نكم سترون بعدي أثرة، فاصبروا حتى تلقوني

Yang artinya: “Sesungguhnya kalian akan melihat pemimpin-pemimpin yang mementingkan kepentingan pribadi, maka bersabarlah hingga kelak kalian bertemu denganku (di akhirat).” (HR Bukhari).

Dan Allah SWT berfirman dalam sebuah hadtis qudsi, melalui sabda Rasulullah SAW:

أَنَا الله لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا, مَالِكُ الْمُلْكِ, وَمَلِكُ الْمُلُوْكِ وَ قُلُوْبُ الْمُلُوْكِ فِى يَدِى. وَإِنَّ الْعِبَادَ إِذَا أَطَاعُوْنِى حَوَّلْتُ قُلُوْبَ مُلُوْكِهِمْ عَلَيْهِمْ بِالرَّأْفَةِ وَالرَّحْمَةِ وَإِنَّ الْعِبَادَ إِذَا عَصَوْنِى حَوَّلْتُ قُلُوْبَـهُمْ عَلَيْهِمْ بِالسَّـخَةِ وَالنِّفْمَةِ, فَسَامُوْهُمْ سُوْءَ الْعَذَابِ فَلاَ تُشْغِلُوْا أَنْفُسَكُمْ بِالدُّعَاءِ عَلَى الْمُلُوْكِ وَلَكِنْ أَشْغِلُوْا أَنْفُسَكُمِ بِالذِّكْرِ وَالتَّقَرُّبَ أَكْفِكُمْ مُلُوْكَكُمْ

Yang artinya: “Akulah Allah. Tiada tuhan selain Aku. Aku penguasa segala kerajaan dan Raja dari segala raja. Qalbu semua raja berada dalam genggaman-Ku. Dan sesungguhnya seluruh hamba, jika mereka menaati-Ku, niscaya Aku akan menjadikan qalbu raja-raja mereka berbelas kasihan kepada mereka. Dan sesungguhnya jika hamba-hamba itu mendurhakai-Ku, niscaya Aku akan menjadikan qalbu raja-raja mereka keras dan dzalim, lalu menimpakan berbagai siksa ke atas mereka. Jangan bersusah payah untuk berdoa ke atas raja-raja itu disebabkan oleh kejahatan mereka, tetapi kerahkanlah diri kalian untuk berzikir dan taqarrub kepada-Ku, niscaya Aku akan lindungi kalian dari -kedzaliman raja-raja kalian.” (Hadits riwayat Imam Ath-Thabrani). ***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here