Oleh : Dr. KH Muchlis M Hanafi, M.A.

Sering muncul beberapa konflik bernuansa keagamaan dan ketegangan dalam masyarakat yang dipicu oleh perbedaan pemahaman atau pandangan keagamaan antara kelompok dan aliran dalam Islam. Konflik itu memang tidak berdiri di atas perbedaan pandangan keagamaan semata, tetapi akumulasi dari berbagai persoalan dan kepentingan; politik, ekonomi, sosial dan lainnya.

Terlepas dari ada atau tidaknya faktor kepentingan, baik yang bersifat internal maupun eksternal, yang jelas perbedaan pandangan keagamaan menjadi salah satu penyebabnya.Bisa menjadi penyebab utama dan bisa menjadi penyebab perantara.Tidak semua perbedaan/ keragaman berujung pada konflik, sama halnya dengan tidak semua konflik berujung pada kekerasan. Terkadang konflik diperlukan.Teori konflik yang dikemukakan para penganut Marxisme menyatakan, konflik memiliki fungsi yang positif, yaitu bahwa konflik merupakan satu-satunya syarat mutlak dan eksklusif untuk mencapai kemajuan masyarakat.Sebagai bagian dari sunnatullah, konflik dalam masyarakat diyakini mampu menciptakan keseimbangan yang membuat kehidupan berkesinambungan. Dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang pertempuran yang terjadi antara Bani Israel di bawah kepemimpinan Thalut dengan Jalut, Allah menjelaskan : (251) [البقرة/251]

وَلَوۡلَا دَفۡعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعۡضَهُمۡ بِبَعۡضٍ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَلٰـکِنَّ اللّٰهَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَى الۡعٰلَمِيۡنَ

Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian lainnya, niscaya rusaklah bumi ini.Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam (QS. Al-Baqarah/2 : 251).

Kata daf`u dalam bahasa Arab memiliki makna dasar yang menunjuk pada tanhiyat al-syay`i (mengesampingkan sesuatu)[1]. Pada ayat di atas dimaknai melindungi karena dalam prosesnya perlu mengesampingkan pihak lain yang mengancam. Setiap makhluk diciptakan oleh Allah dengan dibekali kekuatan dan dorongan untuk melindungi dirinya dari kepunahan, sebab Allah tidak menyukai kerusakan (QS. Al-Baqarah/2 : 105). Atau dengan kata lain, naluri untuk tetap eksis dan tidak menyukai kebinasaan. Dalam rangka itu konflik sering terjadi. Seperti judul di atas, tulisan ini akan menjelaskan korelasi perbedaan pandangan keagamaan yang bersumber pada penafsiran teks-teks keagamaan, dengan konflik-konflik yang pernah terjadi di kalangan umat Islam.

Perbedaan Sebuah Keniscayaan

Keragaman dan perbedaan merupakan salah satu ketentuan Tuhan (sunnatullâh) yang menjadikan kehidupan di dunia ini penuh dengan warna-warni.Perbedaan pandangan, keyakinan, sikap dan perilaku manusia merupakan sebuah keniscayaan seperti disinyalir dalam firman Allah yang maknanya berbunyi, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat (QS.Hud : 118). Menarik dicermati, perselisihan dan perbedaan manusia dalam ayat tersebut diungkapkan dengan kata kerja (al-fi`l) al-mudhâri` (present tense) yang menunjukkan keberlangsungannya pada masa kini dan masa mendatang, yaitu “walâ yazâlûna mukhtalifîna”. Artinya, Tuhan tidak berkehendak menciptakan manusia sebagai umat yang satu, tetapi mereka akan senantiasa dan terus selalu dalam perbedaan, dan memang untuk itu mereka diciptakan seperti dinyatakan pada ayat berikutnya (ayat 119) yang maknanya, “dan untuk itulah Allah menciptakan mereka”.Pakar tafsir al-Razi memahami perbedaan dimaksud pada ayat di atas bersifat umum, meliputi perbedaan agama, pandangan keagamaan, perilaku, perbuatan, warna kulit, bahasa, rezeki dan lainnya[2].

Perbedaan pandangan keagamaan berawal dari kebolehan, bahkan anjuran, untuk berijtihad dalam memahami teks-teks keagamaan.Pada masa Nabi hidup, para sahabat lebih banyak mengandalkan petunjuk wahyu yang diturunkan kepada Nabi.Tetapi sepeninggal beliau, yang berarti terputusnya wahyu, kebutuhan untuk berijtihad semakin meningkat, apalagi mereka banyak tersebar di wilayah-wilayah kekuasaan Islam dan menghadapi berbagai persoalan baru yang belum pernah ada petunjuk sebelumnya. Dari sini muncul perbedaan, yang menurut hemat kami, disebabkan paling tidak oleh dua hal; pertama :kebanyakan teks-teks keagamaan (Al-Qur`an dan hadis) mengandung berbagai kemungkinan penafsiran; kedua: perbedaan tingkat pemahaman antara satu orang dengan lainnya.

Bahasa Arab yang menjadi bahasa Al-Qur`an dan hadis memiliki kekhasan tersendiri dibanding bahasa-bahasa lainnya. Salah satunya, memiliki kekayaan kosa kata dan makna.Kaya makna berarti satu kata/ kalimat memiliki sekian banyak makna. Imam Sahl al-Tustari, seperti dikutip oleh al-Zarkasyi, memberikan gambaran kekayaan tersebut sebagai berikut :

لَوْ أُعْطِيَ الْعَبْدُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَلْفَ فَهْمٍ لَمْ يَبْلُغْ نِهَايَةَ مَا أَوْدَعَهُ اللَّهُ فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ؛ لِأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ، وَكَلَامُهُ صِفَتُهُ‏.‏ وَكَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لِلَّهِ نِهَايَةٌ، فَكَذَلِكَ لَا نِهَايَةَ لِفَهْمِ كَلَامِهِ؛ وَإِنَّمَا يَفْهَمُ كُلٌّ مِقْدَارَ مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ‏.‏ وَكَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَلَا تَبْلُغُ إِلَى نِهَايَةِ فَهْمِهِ فُهُومٌ مُحْدَثَةٌ مَخْلُوقَةٌ ‏”‏‏.‏

Dalam salah satu hadis, Ibnu Abbas menceritakan sebuah sabda Rasulullah yang menyatakan,

[4]قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْقُرْآنُ ذَلُولٌ ذُو وُجُوهٍ فَاحْمِلُوهُ عَلَى أَحْسَنِ وُجُوهِهِ

Rasulullah mengatakan kepadaku, “Al-Qur`an itu dzalûl (tunduk kepada setiap yang memaknainya, atau menjelasakan makna-maknanya) yang mengandung berbagai ragam/ bentuk (penafsiran).Maka bawalah kepada bentuk (penafsiran) yang terbaik.

Kekayaan kosa kata dan makna itu dapat dipahami karena Al-Qur`an dijadikan oleh Allah sebagai kitab suci yang bersifat abadi dan universal, untuk manusia sepanjang masa. Karenanya, kata dan ungkapan yang dipilih diharapkan dapat merespon berbagai perubahan situasi, ruang dan waktu. Memang tidak semua kata atau ayat Al-Qur`an mengandung ragam penafsiran. Yang terkait prinsip dan pokok akidah, seperti keesaan Allah, kebangkitan setelah kematian, surge dan neraka, serta yang terkait prinsip-prinsip syariah/ hokum, Al-Qur`an menggunakan bahasa yang pasti, tidak dengan kata dan ungkapan yang mengandung makna lain. Tetapi yang terkait dengan kemaslahatan manusia yang selalu berubah sesuai perubahan ruang dan waktu, serta diharapkan akal manusia berusaha menggali keragaman maknanya, dan ini yang terbanyak, bahasa Al-Qur`an, seperti kata Imam Ali, hammâlun dzû wujûh (mengandung berbagai kemungkinan penafsiran).Oleh karenanya, dalam pesannya kepada Ibnu Abbas yang akan berdebat dengan kelompok Khawarij, Imam Ali berpesan agar tidak berdalil dan mematahkan argument mereka dengan Al-Qur`an, tetapi dengan sunnah, sebab ketika dikemukakan dalil sebuah ayat, mereka akan berdalil dengan ayat yang serupa atau lainnya[5].

Atas dasar itu para ulama menyatakan, sebagian besar teks-teks keagamaan (nushûsh syar`iyyah) bersifat zhanniy al-dalâlah yang membuka berbagai kemungkinan penafsiran.Seakan Allah ingin memberikan keluasan kepada manusia untuk berbeda pemahaman, dan membuka ruang bagi akal untuk menyimpulkan makna firman Allah dan sabda Rasul-Nya.Hikmah dibalik fakta kebanyakan dalil-dalil kegamaan bersifat zhanniy al-dilâlah, menurut M. Abul Fath al-Bayanuni, yaitu untuk mewujudkan keseimbangan (tawâzun) antara dua hal penting;

  1. Mewujudkan kemaslahatan yang timbul dari terbukanya ruang luas bagi akal manusia untuk memahami maksud-maksud firman Allah, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat akal yang diberikan Allah.
  2. Mencegah kerusakan/ kemudaratan (mafsadah)yang muncul dari perbedaan pada sebagian hukum syara. Ketika mudarat akibat perbedaan mengalahkan maslahat memfungsikan akal, seperti dalam soal sifat-sifat khabariyah (akidah), nash syar`iy bersifat pasti dan jelas (qath`iy). Sebaliknya, ketika kemaslahatan dari berijtihad dan memberdayakan akal lebih besar dari mudarat yang timbul akibat perbedaan pemahaman nash syar`iy bersifat zhanniy[6].

Dengan ungkapan yang lebih tegas, Imam al-Zarkasyi mengatakan, “Ketahuilah, Allah tidak memberikan dalil-dalil yang qath`iy untuk semua hukum syariat, tetapi dijadikan bersifat zhanniy dengan tujuan memberikan keluasan kepada manusia (mukallaf) agar mereka tidak terkungkung pada satu mazhab, karena sudah ada dalil yang pasti dan jelas (qath’iy)”[7].

Perbedaan pandangan keagamaan sudah terjadi di kalangan para sahabat pada masa Nabi dan setelah beliau wafat.Sekembali dari perang Ahzab, Rasulullah berpesan kepada sekelompok sahabat agar dalam perjalanan mereka tidak melaksanakan shalat asar kecuali di kampung Bani Quraizhah.Di tengah jalan, sebelum tiba di tempat, masuk waktu asar. Sebagian melakukan salat karena khawatir waktu asar berlalu, dan sebagian lainnya tidak melakukan karena sesuai pesan mereka akan menunaikan salat ashar setelah tiba di perkampungan Bani Quraizhah. Ketika dilaporkan kepada Nabi, beliau tidak menyalahkan salah satu diantara mereka, tindakan keduanya sama-sama dibenarkan[8]. Hal yang sama terjadi saat dua orang yang sedang dalam perjalanan tidak menemukan air untuk berwudhu ketika waktu salat tiba, sehingga keduanya bertayammum. Tak berselang lama keduanya menemukan air.Yang satu mengulang wudhu dan shalat, yang lainnya tidak mengulang.Ketika peristiwa itu dilaporkan kepada Nabi, beliau mengatakan kepada yang tidak mengulang, “Anda benar telah mengikuti sunnah, dan shalatmu sah”, dan kepada yang berwudhu dan mengulang shalat beliau katakan, “Anda mendapat dua pahala”[9].

Setelah Nabi wafat perbedaan pandangan keagamaan semakin meluas di kalangan para sahabat dan generasi sesudahnya.Bahkan dapat dikatakan, hampir semua persoalan khilafiah di kalangan ulama berpulang kepada perbedaan pandangan para sahabat.Khilafiah yang pertama terjadi di kalangan mereka yaitu tentang siapa yang paling berhak memegang tampuk kepemimpinan setelah Rasulullah, kemudian berkembang pada persoalan-persoalan lain menyangkut hukum teknis dan berlanjut sampai pada masa generasi setelah mereka.Sejak permulaan abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 hijriyah, pakar hokum Islam, Ali al-Sayis, mencatat tidak kurang dari 138 madzhab fiqih lahir pada masa itu.Tidak sedikit wilayah-wilayah itu memiliki mazhab fiqih tersendiri[10].

Perbedaan ulama di masa lalu tidak hanya terjadi pada persoalan fiqhiyyah, tetapi juga dalam hal akidah (ushûl).Hanya saja perbedaan dalam masalah-masalah akidah (`aqdiyyah) sangat sedikit bila dibandingkan dengan masalah-masalah fiqih.Kebanyakan dalil dalam masalah akidah bersifat tegas dan pasti (qath`iyy), berbeda dengan teks-teks yang terkait masalah fiqih yang lebih banyak membuka peluang ijtihad (zhanniyy).Dalam kedua masalah (akidah dan fiqih) perbedaan terjadi pada persoalan teknis (furû`iyyah), bukan pokok masalah (ushûliyyah).Soal iman kepada Allah, nama-nama dan sifat-Nya para ulama tidak berbeda, tetapi menyangkut hal teknis seperti sifat al-kursiyy dan apakah Allah dapat dilihat atau tidak, mereka berbeda.Begitu juga dalam hal kewajiban shalat. Tidak ada ulama yang memperselisihkannya, tetapi dalam hal teknis seperti hokum bacaan ma`mum dalam shalat mereka berbeda.

Selain faktor teks dan bahasa yang membuka peluang untuk dipahami beragam, tingkat kesadaran dan pengetahuan juga sangat menentukan.Pengetahuan manusia tidak seragam.Ada yang diberi kelebihan dibanding lainnya.

 (76) [يوسف: 76] نَرْفَعُ دَرَجَٰتٍ مَّن نَّشَآءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِى عِلْمٍ عَلِيمٌ

Keragaman tingkat pengetahuan itu berakibat pada perbedaan pandangan dan sikap.Tidak terkecuali keragaman itu juga terjadi di kalangan Nabi dan Rasul.Kisah Nabi Musa dan Khidhir dalam QS. Al-Kahf menunjukkan bahwa Allah telah memberikan pengetahuan kepada Nabi Khidhir tentang banyak hal yang mendorongnya untuk mengambil sikap dan tindakan yang sama sekali tidak dipahami oleh Nabi Musa, seperti membunuh anak kecil yang tidak berdosa, menenggelamkan perahu/ kapal milik dua anak yatim dan tidak bersedia menerima upah menegakkan bangunan yang hampir runtuh padahal dirinya sangat membutuhkan. Demikian pula antara Nabi Daud dengan putranya, Nabi Sulaiman, ketika menghadapi persoalan dua orang yang menuntut keadilan dalam soal tanaman di kebun yang dimakan ternak milik orang lain seperti dalam QS. Al-Anbiya : 78-79. Nabi Daud menghukumi agar ternak tersebut diberikan kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi, sementara Nabi Sulaiman yang diberi pemahaman dan ilham oleh Allah memberi putusan agar hasil ternak selama satu tahun diberikan kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi, tanpa harus kehilangan kepemilikian ternak. Putusan Nabi Sulaiman inilah yang ditetapkan meski dalam beberapa riwayat disebutkan saat itu ia masih berusia 11 tahun[11].

Jika di kalangan Nabi dan Rasul saja terjadi perbedaan pandangan dan sikap karena perbedaan tingkat pengetahuan yang diberikan oleh Allah, tentu di kalangan manusia biasa perbedaan itu akan lebih banyak terjadi. Dalam beberapa literature disebutkan, perbedaan pandangan ulama dapat terjadi antara lain karena perbedaan dalam menilai kekuatan sebuah hadis. Menurut ulama A kuat, menurut lainnya tidak. Terkadang satu hadis sampai kepada seorang tetapi tidak sampai ke ulama lainnya.Ketika terdapat dua atau lebih hadis yang terkesan kontradiksi tidak jarang mereka berbeda dalam menyikapinya (antara al-jam`u dan al-tarjîh). Perbedaan juga terjadi karena adanya perbedaan kaidah-kaidah hukum dasar yang berimplikasi pada kesimpulan hukum menyangkut persoalan-persoalan teknis[12].

Yang tidak kalah pentingnya juga, perbedaan pandangan dapat terjadi karena perbedaan kepentingan, baik individu maupun kelompok. Setinggi apa pun tingkat keimanan seseorang, ia tidak lainhanyalah seorang manusia yang tidak luput dari berbagai kepentingan dan godaan hawa nafsu. Setiap individu dan kelompok selalu berupaya untuk menjaga kepentingan pribadi dan kelompoknya.Saat itulah benturan dan konflik sering terjadi. Hanya malaikat dan para nabi yang terbebas dari intervensi kepentingan (Lihat: QS. Al-Anbiya : 26-27, Qs. Al-Najm : 3-4).

Sejauh mana perbedaan kepentingan berpengaruh kepada perbedaan pandangan keagamaan yang tidak jarang berujung pada konflik dapat dilihat dalam bahasan berikut.

Perbedaan Tafsir, Takfîr dan Kekerasan

Kekosongan kepemimpinan setelah meninggalnya seorang tokoh biasanya akan menimbulkan persaingan untuk meraih tampuk kekuasaan. Daya tarik kekuasaan dan upaya menjaga kepentingan telah mendorong terjadinya konflik yang tidak jarang berbalut ideology. Dalam sejarah Islam, factor politik dan kepentingan berperan besar dalam memecah kekuatan umat Islam menjadi kelompok dan aliran. Tidak berlebihan jika ada yang mengatakan, tidak ada pedang terhunus dalam Islam sebanyak yang terjadi dalam hal imâmah dan khilâfah (kepemimpinan) (mâ sulla sayfun fil Islâm `alâ syay`in mitslamâ sulla `alal imâmati wal khilâfati)[13].

Di hari wafatnya Rasulullah, bahkan sebelum jenazah beliau dimakamkan, muncul persoalan kepemimpinan (khilâfah/ imâmah) di antara kaum muslimin. Saat itu benih perpecahan antara dua kelompok umat Islam muncul; pertama :kelompok Sunnah yang berpandangan tidak ada nash agama yang menetapkan pengganti Rasulullah, dan masalah ini berpulang pada kesepakatan dan pilihan kaum muslimin; kedua : kelompok Syi`ah yang berkeyakinan ada teks keagamaan yang menetapkan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dan imam yang harus ditaati setelah Rasulullah tiada. Perselisihan para sahabat dalam menentukan khalifah sepeninggal Rasulullah terekam dengan baik dalam beberapa literature sejarah Islam[14].

Pada fase berikutnya, munculnya kelompok Khawarij[15] juga terkait erat dengan peristiwa politik setelah terjadi perselisihan antara Imam Ali dan Muawiyah yang disebabkan persoalan kepemimpinan (al-imâmah al-`uzhmâ).Saat itu mereka berada di barisan Imam Ali, belum muncul sebagai faksi politik.Setelah peristiwa tahkîm, mereka yang berjumlah 12.000 orang membelot dari pasukan Imam Ali. Pembelotan terjadi karena dua hal prinsip, pertama:  pandangan mereka yang membolehkan imam berasal dari selain suku Quraisy, yang penting adil dan tidak berlaku zhalim. Kedua: pandangan mereka bahwa Imam Ali telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan tahkîm yang dinilainya sebagai memberlakukan hokum manusia, bukan hokum Tuhan. Salah satu ayat yang dijadikan landasan mempersalahkan Imam Ali yaitu firman Allah :inil hukmu ilâ lillâh (QS. Yusuf : 40).

Kelompok Khawarij menafsirkan ayat tersebut secara politis, sampai-sampai Imam Ali menanyakan kepada Ibnu Abbas yang sempat berdebat dengan mereka, “apakah mereka itu kaum munafik?”.Ibnu Abbas menjawab, “tidak ada tanda kemunafikan di wajah mereka, bahkan yang ada tanda bekas sujud.Mereka melakukan takwil terhadap Al-Qur`an”[16].Dalam kesempatan lain, Sayyiduna Ali menilai ungkapan mereka lâ hukma illâ lillâh sebagai ucapan yang benar tetapi terselip di balik itu kebatilan (kalimatu haqqin urîda bihâ bâthil)[17]. Menurut Hasan Lahsasinah, takwil politis itu dilakukan karena mereka tidak melihat ayat-ayat Al-Qur`ansebagai satu kesatuan yang utuh, tetapi memahaminya secara parsial. Takwil itu juga merupakan bagian dari strategi mereka untuk melepaskan diri dari Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Selain itu juga karena memiliki prinsip untuk memerangi penguasa yang dianggap telah berbuat zhalim.Oleh karenanya, tidak heran kalau mereka selalu memusuhi, bahkan memerangi, pemerintahan dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah dalam rentang waktu yang cukup panjang[18].

Tafsir politis yang sarat kepentingan itu berbuah vonis kafir untuk lawan-lawan politiknya, sebab konsekuensi mengabaikan hokum Allah adalah kafir.Salah satu korbannya adalah Imam Ali yang dibunuh oleh tiga orang dari kelompok Khawarij, yaitu Syabib ibn Najdah al-Asyja`i, Ibnu Muljam dan Wardan[19].

Perselisihan antara Ali dan Muawiyah dalam soal kepemimpinan juga berbuntut panjang yang berujung pada kekerasan. Puncaknya adalah terbunuhnya Imam Husein bin Ali oleh Yazid bin Muawiyah di Karbela yang meninggalkan luka mendalam di hati para pengikut Imam Ali yang dikenal dengan sebutan Syiah. Sampai sekarang peristiwa berdarah itu masih dikenang melalui perayaan setiap tanggal 10 Muharam. Sejak itu saling caci, maki, laknat, bahkan mengkafirkan tidak pernah berhenti antara kelompok syiah pengikut Imam Ali dengan kelompok sunnah yang antara lain direpresentasikan oleh penguasa-penguasa dinasti bani Umayyah. Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah[20]. Dalam kitab Mu`jam al-Buldân, Yaqut al-Hamawi berkata, “Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid”[21]. Sebaliknya, sampai sekarang dalam banyak literature kelompok Syiah terdapat cacian dan makian yang dialamatkan kepada para sahabat Nabi yang sangat dicintai dan dihormati oleh kelompok Sunnah seperti Abu Bakar, Umar dan Aisyah RA.Abu Bakar dan Umar dianggap telah merampas hak kepemimpinan yang semestinya jatuh ke tangan Ali.

Saling memvonis kafir (takfîr) dan saling menyesatkan karena perbedaan pandangan keagamaan antara satu kelompok dengan lainnya sampai saat ini masih sering kita saksikan.Lebih-lebih antara kelompok Syi’ah, wahhâbiyah dan shûfiyah[22].Tentu sangat disayangkan jika ada kelompok umat Islam yang terlalu mudah mengafirkan orang atau institusi hanya karena berbeda pandangan dalam beberapa persoalan akidah atau fiqih. Padahal Al-Qur`an mengingatkan kita agar tidak cepat-cepat menghukumi orang lain kafir. Allah berfirman :

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا  [النساء/94]

dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ”salam” kepadamu, Kamu bukan seorang yang beriman,” (lalu kamu membunuhnya) (QS. Al-Nisa : 94).

Takfîrakan berakibat panjang bagi yang mengafirkan dan yang dikafirkan. Rasulullah bersabda :

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ ، إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ (رواه البخاري عن أبى ذر رضى الله عنه)[23]

“Jika ada seseorang yang melemparkan tuduhan fasiq dan kafir kepada orang lain, dan ternyata tuduhan itu tidak benar, maka tuduhan itu akan kembali kepada dirinya” (HR. Al-Bukhari dari Abu Dzar).

Bagi yang dikafirkan, diakhirat akan berakibat mendapat ancaman siksa kekal selama-lamanya di neraka. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (64) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لاَ يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا (65) [الأحزاب/64، 65]

Sungguh, Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong (QS. Al-Ahzab : 64-65).

Akibat yang akan diterima di dunia, seseorang yang dikafirkan akan dipandang sebagai orang yang murtad (keluar dari agama), halal darahnya, dan harus dipisah dari pasangannya (tafrîq) dan diberlakukan baginya hukum-hukum yang berlaku bagi orang kafir seperti dalam soal perkawinan, warisan, sembelihan, tidak dimandikan dan dishalatkan jika meninggal dunia, tidak dimakamkan di pekuburan Muslim dan lainnya. Selain itu, secara psikologis dan hubungan sosial orang itu akan merasa dikucilkan. Menurut Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, situasi seperti itu akan membuatnya seperti ‘terbunuh’ secara moral, atau terbunuh karakternya, meski tanpa harus dibunuh secara fisik seperti dalam salah satu hadis Nabi, “barangsiapa mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah”[24].

Mengingat besarnya dampak yang diakibatkan oleh takfîr para ulama Islam mengingatkan agar kita tidak cepat-cepat melabelkan kafir kepada seseorang atau kelompok orang atau institusi.Imam al-Ghazali mengingatkan, “sedapat mungkin kita berhati-hati dalam mengafirkan, sebab menghalalkan darah dan harta orang yang melakukan shalat ke kiblat, yang menyatakan secara tegas dua kalimat syahadat adalah sebuah kesalahan.Kesalahan yang berakibat membiarkan seribu orang kafir hidup lebih mudah menanggungnya daripada melakukan kesalahan yang berakibat terbunuhnya seorang Muslim”[25].Peringatan serupa disampaikan oleh Imam Taqiyuddin al-Subki, ulama abad ke-8 hijriah.Ia berkata, “setiap orang yang takut kepada Allah berat baginya untuk mengafirkan orang yang mengucap dua kalimat syahadat, sebab takfîr akan berdampak besar dan berbahaya. Mengafirkan seseorang sama halnya memberitahukan orang itu bahwa nasibnya di akhirat adalah neraka jahannam dan akan kekal selama-lamanya di situ. Sedangkan di dunia darah dan hartanya halal, tidak diperkenankan menikahi seorang Muslimah, dan tidak berlaku baginya hukum-hukum yang berlaku bagi umat Islam, baik di dunia maupun di akhirat.Kesalahan yang berakibat membiarkan 1000 orang kafir hidup lebih mudah menanggungnya daripada melakukan kesalahan yang berakibat terbunuhnya seorang Muslim. Dalam suatu hadis dikatakan,

فَإِنَّ الإِمَامَ أَنْ يُخْطِئَ فِى الْعَفْوِخَيْرٌمِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِى الْعُقُوبَةِ

[26]

Seorang pemimpin yang salah dalam memberikan maaf/ ampunan lebih aku sukai daripada salah dalam soal menjatuhkan hukuman” (HR. Tirmidzi, dari Aisyah RA).

Takfîr hanya boleh dialamatkan kepada yang menyatakan kekufurannya secara terang-terangan, menjadikannya sebagai keyakinan/ agama, mengingkari dua kalimat syahadat, dan keluar dari agama Islam.Ini jarang sekali terjadi[27].Dengan ungkapan berbeda, Syeikh Muhammad Abduh juga mengingatkan, “Salah satu pokok ajaran Islam yaitu menghindari takfir.Telah masyhur di kalangan ulama Islam satu prinsip dalam agama, yaitu bila ada ucapan seseorang yang mengarah kepada kekufuran dari seratus penjuru, dan mengandung kemungkinan iman dari satu arah, maka diperlakukan iman didahulukan, dan tidak boleh dihukumi kafir”[28].

Mendekatkan Perbedaan, Bukan Menyatukan

Dari uraian terdahulu diketahui perbedaan pandangan keagamaan tidak bisa dihindarkan, bahkan menjadi keniscayaan.Keragaman pandangan merupakan cermin bagi dinamika intelektualitas dan rasionalitas Islam sebagai agama yang bersifat universal dan responsif terhadap berbagai perkembangan. Keberadaan mazhab-mazhab itu juga memperkaya khazanah peradaban Islam dengan berbagai alternative pemikiran yang dapat memberikan kemudahan dan pilihan bagi umat dalam beragama. Dalam konteks ini perbedaan dapat menjadi rahmat.Tetapi ketika perbedaan itu dibawa ke ranah yang sempit dengan balutan fanatisme yang berlebihan, sehingga melahirkan sikap saling mem-bid`ah-kan, merasa paling benar, dan mengkafirkan, sejarah pemikiran Islam diwarnai dengan pertumpahan darah yang mencabik persatuan umat.Oleh karenanya penting bagi kita untuk mengelola perbedaan dengan baik.

Salah satu cara mengelola perbedaan adalah dengan membuka pintu dialog untuk mendekatkan pemahaman-pemahaman yang ada. Mendekatkan, karena memang sulit, bila tidak ingin berkata mustahil, untuk menyatukannya. Melalui dialog akan timbul sikap menghormati dan toleransi. Meski berbeda kita perlu optimis dapat mewujudkan persatuan umat.Bersatu dalam keragaman.Optimisime itu cukup beralasan jika dilihat bahwa sisi persamaan antara mazhab atau aliran yang ada sangatlah banyak, terutama dalam hal pokok ajaran, bila dibanding dengan perbedaan.

Dalam konteks hubungan antara Sunnah dan Syiah, persaman itu dapat dilihat pada keimanan terhadap pokok-pokok akidah Islam (tauhid, kenabian dan kebangkitan), komitmen terhadap pokok-pokok ajaran dan rukun Islam serta komitmen terhadap Al-Qur`an dan hadis sebagai sumber ajaran.Bila terhadap penganut agama yang berbeda saja kita diminta untuk berdialog dan berdebat dengan cara yang terbaik maka dengan sesama yang mengucap dua kalimat syahadat tentu lebih sangat dianjurkan dan harus bisa kita lakukan.

Perbedaan antara Sunnah dan Syiah, menurut Syeikh Muhammad al-Ghazali, diperbesar oleh factor politik kekuasaan, padahal keduanya sama-sama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menjalin hubungan dengan Islam melalui keyakinan terhadap kitab suci Al-Qur`an dan sunnah Rasul. Dalam hal pokok ajaran keduanya sama. Perbedaan hanya pada persoalan teknis (masâ`il fiqhiyyah), seperti perbedaan yang ada antara mazhab Hanafi dengan Maliki atau Syafi`i[29].

Atasa dasar kesamaan ini, di akhir tahun empatan puluhan abad ke-20, para ulama Al-Azhar yang merepresentasikan kelompok sunnah dan beberapa ulama dari kelompok Syiah menggagas forum dialog untuk mendekatkan kedua mazhab tersebut yang dinamakan Lajnat al-Taqrîb Bayna al-Madzâhib al-Islâmiyyah. Sebagai puncaknya adalah pengakuan Syiah sebagai bagian dari mazhab-mazhab Islam yang ada dalam fatwa Syeikh Mahmud Syaltout. Fatwa tersebut berbunyi, “Sesungguhnya mazhab Ja`fariyah, yang dikenal dengan Syi’ah Imamiyah Itsna `Asyariyah adalah mazhab yang diperbolehkan secara syar`I untuk beribadah dengannya seperti mazhab-mazhab ahlusunnah lainnya. Umat Islam sepatutnya mengetahui itu dan tidak terjebak pada fanatisme secara berlebihan/ tidak tepat terhadap mazhab tertentu.Agama Allah dan syariat tidak tunduk/ mengikuti satu mazhab tertentu, atau terbatas pada mazhab.Semua berijtihad dan akan diterima di sisi Allah”[30].Sampai saat ini, dalam kajian fiqih perbandingan (fiqh muqâran) di Universitas Al-Azhar mazhab Syiah Imamiyah dianggap sebagai salah satu mazhab fiqih yang mu`tabar selain mazhab Hanafi, Maliki, Syafi`I, Hambali, Zhahiriyah, Zaidiyah dan Ibadhiyah.Bahkan melalui Kementerian Wakaf, para ulama Al-Azhar menyusun ensiklopedia fiqih Islam bersumberkan delapan mazhab tersebut.

Dalam sebuah deklarasi yang dikeluarkan oleh Konferensi Islam Internasional di Amman Yordania 4-6 Juli 2005, dan ditegaskan kembali dalam keputusan dan rekomendasi Sidang ke 17 Majma al-Fiqh al-Islami(lembaga di bawah Organisasi Konferensi Islam/OKI) di Yordania 24-26 Juni 2006 dinyatakan;

  1. Setiap yang mengikuti salah satu dari empat mazhab Ahlussunnah wal jamaah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali), mazhab Ja`fari, Zaidiyah, Ibadhiyah dan Zhahiriyah adalah Muslim yang tidak boleh dikafirkan. Demikian pula tidak boleh mengkafirkan kelompok Muslim lain yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya, rukun iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari pokok-pokok ajaran agama (al-ma`lûm min al-dîn bi al-dharûrah).
  2. Yang menyatukan mazhab-mazhab yang ada sangatlah banyak dibanding perbedaan. Para penganut mazhab delapan sepakat prinsip-prinsip pokokajaran Islam. Semua beriman kepada Allah yang Esa, Al-Qur`an adalah kalamullah, Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh umat manusia. Mereka juga sepakat rukun Islam yang lima; syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan dan haji. Demikian juga rukun iman; percaya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir dan qadar yang baik dan buruk. Perbedaan ulama para pengikut mazhab adalah perbedaan dalam hal teknis (furu’iyyah), bukan yang prinsipil, dan itu mendatangkan rahmah.

Pernyataan yang ditandatangani oleh banyak ulama dunia Islam itu dapat dikatakan menjadi sebuah konsensus (ijmâ`) umat Islam di era modern sebagai upaya membangun pijakan dalam mewujudkan kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan.Pernyataan tersebut bermula dari keinginan Raja Abdullah dari Yordania yang telah menggagas rumusan pesan damai Islam melalui Amman Message pada tahun 2004. Agar lebih aplikatif, Raja mengirimkan tiga pertanyaan mendasar dalam hubungan antara sesama Muslim kepada 24 ulama dunia dari berbagai mazhab, yaitu : 1) siapa yang termasuk Muslim; 2) Apakah boleh sesama Muslim saling mengkafirkan, dan ; 3) siapa yang berhak mengeluarkan fatwa.Jawaban para ulama itu kemudian dibahas dalam Konferensi Islam Internasional 4 – 6 Juli 2005.

Upaya mendekatkan dan membangun dialog itu bukan tanpa hambatan. Dalam konferensi dialog antar-mazhab (Sunnah-Syiah) yang digelar di Doha awal tahun 2007 mengemuka beberapa hambatan tersebut, antara lan; beban sejarah yang cukup panjang, kecurigaan masing-masing kelompok terhadap lainnya, adanya upaya menyebarluaskan paham Syiah di tengah komunitas Sunnah, literature masing-masing kelompok yang menjelekkan kelompok lainnya, dan masih banyak lainnya. Oleh karenanya, dialog yang telah terbangun selama ini belum menunjukkan hasil yang signifikan.Bahkan cenderung menguntungkan salah satu pihak. Syeikh Ahmad Thayyeb, Rektor Universitas Al-Azhar (saat ini Grand Syeikh Al-Azhar), dalam paparannya sat itu mengkhawatirkan masa depan dialog dengan masih adanya upaya dari kelompok Syiah untuk menyebarluaskan pahamnya di Mesir yang menganut paham Sunnah.Buku-buku yang mencaci para Sahabat yang sangat dihormati kelompok Sunnah masih banyak ditemukan.Selama ini, menurut Thayyeb, kelompok Sunnah sudah terlalu banyak ‘mengalah’. Jika upaya tersebut masih berlanjut bukan tidak mungkin kelompok Sunnah tidak akan melanjutkan proses dialog.

Sebesar apa pun hambatan yang ada dialog tetap harus dibangun dengan niat baik, dalam suasana keterbukaan, saling menghormati dan saling percaya. Dialog diperlukan untuk membahas agenda bersama mewujudkan kepentingan yang lebih besar bagi umat. Dialog bukan untuk menyatukan atau menyamakan pandangan, tetapi untuk saling memahami dan menghormati. Untuk itu kode etik dan aturan penyebaran paham kelompok masing-masing perlu disepakati.Dengan begitu, semoga kerukunan yang diidamkan segera dapat terwujud. Demikian, wallahua`lam.

[1]Mu`jam Maqâyîs al-Lughah, Ibnu Faris, 2/235

                [2]Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr (Beirut : Dâr Ihyâ al-Turâts al-`Arabiy, cet : 3), 18/76

[3]Al-Zarkasyi, Al-Burhân fî `Ulûm al-Qur`ân, 1/9

[4] Sunan al-Dâruquthni, 5/255

[5]Dialog antara Imam Ali dan Ibnu Abbas terdapat dalam kitab al-Durr al-Mantsur (1/40) sebagai berikut :

أخرجابْنسعدعَنعِكْرِمَةقَالَ: سَمِعتابْنعَبَّاسيحدثعَنالْخَوَارِجالَّذينأَنْكَرُواالْحُكُومَةفاعتزلواعَليّبنأبيطَالبقَالَ: فاعتزلمِنْهُماثْنَاعشرألفافدعانيعَليّفَقَالَ: اذْهَبْإِلَيْهِمفخاصهموادعهمإِلَىالْكتابوَالسّنةوَلَاتحاجهمبِالْقُرْآنِفَإِنَّهُذَوُووُجُوهوَلَكِنخاصهمبِالسنةِ

وَأخرجابْنسعدعَنعمرَانبنمناحقَالَ: فَقَالَابْنعَبَّاس: يَاأَمِيرالْمُؤمنِينَفَأَناأعلمبِكِتَاباللهمِنْهُمفِيبُيُوتنَانزلفَقَالَ: صدقتوَلَكِنالْقُرْآنجمالذُووُجُوهيَقُولوَيَقُولُونَ،وَلَكِنحاججهمبالسننفَإِنَّهُملنيَجدواعَنْهَامحيصاً،فَخرجابْنعَبَّاسإِلَيْهِمفحاججهمبالسننفَلميبْقبِأَيْدِيهِمحجَّة . الدرالمنثورفيالتفسيربالمأثور (1/ 40)

[6] M. Abul Fath al-Bayanuni, Dirâsât fi al-Ikhtilâfât al-`Ilmiyyah (Kairo: Darussalam, Cet. 2, 2007) h. 21

[7]Teks al-Zarkasyi sebagai berikut :

اعلمأناللهلينصبعَلَىجَمِيعِالْأَحْكَامِالشَّرْعِيَّةِأَدِلَّةًقَاطِعَةً،بَلْجعلهاظنية،قصداللتوسيععلىالمتكلفين،لِئَلَّايَنْحَصِرُوافِيمَذْهَبٍوَاحِدٍ،لِقِيَامِالدَّلِيلِالْقَاطِعِعَلَيْهِ (البحرالمحيطفيأصولالفقه (8/ 119)

Lihat juga: Irsyâd al-Fuhûl ilâ tahqîq al-Haqq min Ilmi al-Ushûl, 2/257

[8]Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari;

صحيحالبخاري (2/ 15):

حَدَّثَنَاعَبْدُاللَّهِبْنُمُحَمَّدِبْنِأَسْمَاءَ،قَالَ: حَدَّثَنَاجُوَيْرِيَةُ،عَنْنَافِعٍ،عَنِابْنِعُمَرَ،قَالَ: قَالَالنَّبِيُّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَلَنَالَمَّارَجَعَمِنَالأَحْزَابِ: «لاَيُصَلِّيَنَّأَحَدٌالعَصْرَإِلَّافِيبَنِيقُرَيْظَةَ» فَأَدْرَكَبَعْضَهُمُالعَصْرُفِيالطَّرِيقِ،فَقَالَبَعْضُهُمْ: لاَنُصَلِّيحَتَّىنَأْتِيَهَا،وَقَالَبَعْضُهُمْ: بَلْنُصَلِّي،لَمْيُرَدْمِنَّاذَلِكَ،فَذُكِرَلِلنَّبِيِّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ،فَلَمْيُعَنِّفْوَاحِدًامِنْهُمْ

[9]Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Nasai :

سننأبيداود (1/ 93):

عَنْأَبِيسَعِيدٍالْخُدْرِيِّقَالَ: خَرَجَرَجُلَانِفِيسَفَرٍ،فَحَضَرَتِالصَّلَاةُوَلَيْسَمَعَهُمَامَاءٌ،فَتَيَمَّمَاصَعِيدًاطَيِّبًافَصَلَّيَا،ثُمَّوَجَدَاالْمَاءَفِيالْوَقْتِ،فَأَعَادَأَحَدُهُمَاالصَّلَاةَوَالْوُضُوءَوَلَمْيُعِدِالْآخَرُ،ثُمَّأَتَيَارَسُولَاللَّهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفَذَكَرَاذَلِكَلَهُفَقَالَلِلَّذِيلَمْيُعِدْ: «أَصَبْتَالسُّنَّةَ،وَأَجْزَأَتْكَصَلَاتُكَ» . وَقَالَلِلَّذِيتَوَضَّأَوَأَعَادَ: «لَكَالْأَجْرُمَرَّتَيْنِ»

[10]Sayyid Jalaluddin, Al-Ta`addudiyyah al-Madzhabiyyah fi al-Islâm, (Iran: Al-Majma` al-`âlamiy li al-Taqrîb bayna al-Madzâhib al-Islâmiyyah, Cet 1, 2007), h. 19

[11]Lihat : Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-`Azhîm, 5/355

[12]Lihat misalnya : Waliyyullah al-Dahlawai, Al-Inshâf fi Bayân Asbâb al-Ikhtilâf, Muhammad Abul Fath al-Bayanuni, Dirâsât fi al-Ikhtilâfât al`Ilmiyyah

[13]Hasan bin Musa al-Shaffar, Al-Ta`addudiyyah wal hurriyyah fil Islâm, h. 207

[14]Dalam kitab al-Kamil fi al-Târîkh, karya Ibn al-Atsir, beliau menceritakan sebagai berikut :

الكاملفيالتاريخ (2/ 187):

حَدِيثُالسَّقِيفَةِوَخِلَافَةُأَبِيبَكْرٍ – رَضِيَاللَّهُعَنْهُوَأَرْضَاهُ]

لَمَّاتُوُفِّيَرَسُولُاللَّهِ – صَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ – اجْتَمَعَالْأَنْصَارُفِيسَقِيفَةِبَنِيسَاعِدَةَلِيُبَايِعُواسَعْدَبْنَعُبَادَةَ،فَبَلَغَذَلِكَأَبَابَكْرٍ،فَأَتَاهُمْوَمَعَهُعُمَرُوَأَبُوعُبَيْدَةَبْنُالْجَرَّاحِ،فَقَالَ: مَاهَذَا؟فَقَالُوا: مِنَّاأَمِيرٌ،وَمِنْكُمْأَمِيرٌ. فَقَالَأَبُوبَكْرٍ: مِنَّاالْأُمَرَاءُ،وَمِنْكُمُالْوُزَرَاءُ. ثُمَّقَالَأَبُوبَكْرٍ: قَدْرَضِيتُلَكُمْأَحَدَهَذَيْنِالرَّجُلَيْنِعُمَرَوَأَبِيعُبَيْدَةَأَمِينُهَذِهِالْأُمَّةِ. فَقَالَعُمَرُ: أَيُّكُمْيَطِيبُنَفْسًاأَنْيَخْلُفَقَدَمَيْنِقَدَّمَهُمَاالنَّبِيُّ – صَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ -؟فَبَايَعَهُعُمَرُوَبَايَعَهُالنَّاسُ. فَقَالَتِالْأَنْصَارُأَوْبَعْضُالْأَنْصَارِ: لَانُبَايِعُإِلَّاعَلِيًّا. قَالَ: وَتَخَلَّفَعَلِيٌّ،وَبَنُوهَاشِمٍ،وَالزُّبَيْرُ،وَطَلْحَةُ – عَنِالْبَيْعَةِ. وَقَالَالزُّبَيْرُ: لَاأُغْمِدُسَيْفًاحَتَّىيُبَايَعَعَلِيٌّ. فَقَالَعُمَرُ: خُذُواسَيْفَهُوَاضْرِبُوابِهِالْحَجَرَ،ثُمَّأَتَاهُمْعُمَرُ،فَأَخَذَهُمْلِلْبَيْعَةِ.وَقِيلَ: لَمَّاسَمِعَعَلِيٌّبَيْعَةَأَبِيبَكْرٍخَرَجَفِيقَمِيصٍمَاعَلَيْهِإِزَارٌوَلَارِدَاءٌعَجِلًا،حَتَّىبَايَعَهُ،ثُمَّاسْتَدْعَىإِزَارَهُوَرِدَاءَهُفَتَجَلَّلَهُ.وَالصَّحِيحُ: أَنَّأَمِيرَالْمُؤْمِنِينَمَابَايَعَإِلَّابَعْدَسِتَّةِأَشْهُرٍ. وَاللَّهُأَعْلَمُ.وَقِيلَ: لَمَّااجْتَمَعَالنَّاسُعَلَىبَيْعَةِأَبِيبَكْرٍأَقْبَلَأَبُوسُفْيَانَوَهُوَيَقُولُ: إِنِّيلَأَرَىعَجَاجَةًلَايُطْفِئُهَاإِلَّادَمٌ! يَاآلَعَبْدِمَنَافٍ،فِيمَأَبُوبَكْرٍمِنْأُمُورِكُمْ؟أَيْنَالْمُسْتَضْعَفَانِ؟أَيْنَالْأَذَلَّانِعَلِيٌّوَالْعَبَّاسُ؟مَابَالُهَذَاالْأَمْرِفِيأَقَلِّحَيٍّمِنْقُرَيْشٍ؟ثُمَّقَالَلَعَلِيٍّ: ابْسُطْيَدَكَأُبَايِعْكَ،فَوَاللَّهِلَئِنْشِئْتَلَأَمْلَأَنَّهَاعَلَيْهِخَيْلًاوَرَجْلًا. فَأَبَىعَلِيٌّ – عَلَيْهِالسَّلَامُ – فَتَمَثَّلَبِشِعْرِالْمُتَلَمِّسِ:

وَلَنْيُقِيمَعَلَىخَسْفٍيُرَادُبِهِ … إِلَّاالْأَذَلَّانِعَيْرُالْحَيِّوَالْوَتَدُ

هَذَاعَلَىالْخَسْفِمَعْكُوسٌبِرُمَّتِهِ … وَذَايُشَجُّفَلَايَبْكِيلَهُأَحَدُ

فَزَجَرَهُعَلِيٌّوَقَالَ: وَاللَّهِإِنَّكَمَاأَرَدْتَبِهَذَاإِلَّاالْفِتْنَةَ،وَإِنَّكَوَاللَّهِطَالَمَابَغَيْتَلِلْإِسْلَامِشَرًّا! لَاحَاجَةَلَنَافِينَصِيحَتِكَ.

[15] Khawarij adalah suatu aliran sempalan yang muncul karena kecewa terhadap arbitrase (tahkim) yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra. pada perang Shiffin. Khawarij memandang bahwa Ali, Mu‘awiyah, Amr bin al-‘Ash dan Abu Musa al-Asy’ari dan lain-lain yang menerima arbitrase adalah kafir berdasarkan tafsir literal mereka atas ayat 44 QS.al-Mâ’idah. Karena Ali dan lainnya dianggap telah keluar dari Islam, maka mereka dianggap telah murtad (apostase) yang mesti dibunuh.Khawarij lambat laun pecah menjadi beberapa sekte (versi al-Baghdadi 20 sekte), dan konsep kafir mereka turut pula mengalami perubahan.Yang dipandang kafir bukan lagi hanya orang yang tidak menentukan hukum dengan Al-Qur’ân, tetapi orang yang berbuat dosa besar atau murtakib al-kabâ’ir, juga dipandang kafir. Kelompok ekstrem-radikal ini disebut sebagai Khawarij (secara bahasa: orang-orang yang keluar atau menyempal), karena mereka memisahkan diri dari pemerintah Islam yang sah yang mereka anggap telah kafir karena berbuat maksiat dan menyimpang dari ajaran Islam. (Lebih lanjut, lihat: As-Sahrastânî, al-Milal wa an-Nihal, Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, t.t., hal. 1/106 dst.; Abdul Qahir al-Baghdâdi, al-Farq Bain al-Firaq, editor: M. Muhyiddin A. Hamid, Beirut: Darul Ma‘rifah, t.t., hal. 72 dst. ; Abdul Halim Mahmud, at-Tafkîr al-Falsafî fil Islâm, Cairo: Darul Ma‘rifah, cet. II, 1989, hal. 133 dst.; Abul Wafa at-Taftazani, ‘Ilmu al-Kalâm wa Ba‘dhu Musykilâtihî, Cairo: Dar ats-Tsaqafah, t.t., hal. 32 dst.; dan Muhammad Imarah, Tayyârât al-Fikr al-Islâmî, Cairo: Darus-Syuruq, 1991, hal. 9 dst.).

[16] Ibn Abi Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah al-Jâmi` li Khuthab wa rasâ`il wa hikam Amîril mu`minîn Ali ibn Abi Thalib, (Beirut : Dar al-Rasyad al-Haditsah), 2/310

[17]Ibn al-Atsir, Al-Kâmil fi al-Târîkh, 2/685

[18]Hasan Lahsasinah, Al-Hâkimiyyah fil Fikr al-Islâmiy, (Qatar : kementerian Wakaf dan Urusan Islam, Cet 1, 2007), h. 104

[19]M. Mathar Salim al-Ka`biy,Al-`Unf fi al-Turâts al-Islâmiy, h.

[20]Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili, “Syarh Nahjul Balaghah”, 1/356.

[21]Yaqut al-Hamawi, Mu’jam al-Buldân, jil.1, hal. 191

[22]Lihat : Muhammad Emarah, Fitnah al-Takfîr,

[23]Shahîh al-Bukhâri, bâb mâ yunhâ min al-sibâb wa al-la`n, no 6045

[24]Shahîh al-Bukhâri, bâb qatli al-murtadd wal-murtaddah, no 6922

[25]Al-Ghazali,Al-Iqtishâd fî al-I`tiqâd, (Kairo : Maktabat Shubaih, 1962), h. 126

[26] Sunan al-Tirmidzi, bâb mâ jâ`a fî dar`I al-hudûd,  no 1489, h. 5/479

[27]Al-Subki, Al-Thabaqât al-Kubrâ, 1/13

[28]M. Emarah, Al-A`mâl al-Kâmilah li al-Imâm Muhammad Abduh, (Kairo: Dar al-Syuruq, 1993), 3/302

[29] Dikutip dari Izzuddin Ibrahim, Al-Sunnah wa al-Syi`ah Dhajjah Mufta`alah (Teheran; Munzhzhamat al-Amal al-Islami), h. 20

[30]Sayyid Jalaluddin, Al-Ta`addudiyyah al-Madzhabiyyah fi al-Islâm, h. 119

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here