Oleh: Subhan Hi Ali Dodego

Judul : Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Islam

Nama penulis : Farag Fouda

Penerbit : Democracy Project

Tebal : 265 Halaman

ISBN :  978-979-9099-48-8

Buku dengan judul “Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim” adalah sebuah karya original  yang ditulis oleh seorang intelektual asal Mesir, Farag Fouda. Pria kelahiran 1945, ini adalah doktor di bidang ekonomi pertanian. Ia pernah berafiliasi dengan partai politik, seperti Partai Wafd dan Partai Istiqlal.  Tetapi, ia lebih dikenal sebagai pemikir, penggiat hak asasi manusia, dan komentator sosial. Karena kekritisannya, pada  8 Juni  1992, Farag Fouda ditembak mati di Madinah al-Nashr, Kairo.

Dalam buku tersebut, Farag Fouda memberikan kritik tajam bahwa selama ini para sejarawan umat Islam hanya menceritakan sejarah umat Islam yang baik dan indah-indah. Padahal, banyak fakta sejarah yang sengaja ditutup-tutupi dan tidak bongkar. Akhirnya kebenaran sejarah banyak tidak diketahui oleh umat Islam.

Farag Fouda mengatakan kebanyakan orang hanya ingin mendengarkan apa yang mereka sukai. Secara kejiwaan, manusia memang lebih condong  untuk meminati  aspek yang emosional dan merasa nyaman dengan kebenaran yang dianggap sudah mapan.  Karena itu,  sulit bagi banyak orang untuk menerima  versi kebenaran  lain, walaupun di kemudian hari versi lain ini terbukti lebih benar atau mendekati kebenaran (halaman 1).

Betapa banyak  ahli sejarah  ternama  yang menggiring  ke arah itu.  Mereka tidak menuliskan  pena dan pemikiran mereka, metode dan pembahasan mereka, kecuali hanya ke arah yang disenangi oleh para pembaca. Mereka tidak perduli walaupun apa yang mereka lakukan merupakan pengkhianatan  terhadap sejarah, akal budi, bahkan dokumen-dokumen sejarah sekalipun (Halaman 2).

Dalam buku yang diterbitkan oleh Democracy Project tersebut terdiri atas lima pokok pembahasan, yaitu: Kebenaran yang hilang; pembacaan baru terhadap sejarah Khulafa’ al-Rasyidin; pembacaan baru terhadap sejarah Umayyah; pembacaan baru terhadap sejarah Abbasiyah; dan bagian lalu apa sebagai penutup.

Jika ditelaah secara mendalam, Farag Fouda ingin mengatakan cita-cita mendirikan negara agama atau khilafah adalah sedang mengumbar omong kosong. Sebab, sejarah yang diagung-agungkan setelah sepeninggalnya Rasulullah saw. yang dimulai dari fase Khuala’ al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Ursman dan Ali), kemudian masuk pada fase Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah banyak ditemukan praktik politik dan kekuasaan yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw.

Orang-orang yang berpikiran bahwa kita mungkin saja bisa dapat mengembalikan masa Khulafa’ al-Rasyidin ke dunia modern, sebetulnya sedang mengumbar omong kosong. Mereka akan mengajak kita dan diri mereka sendiri kepada hasil yang tragis. Tidak semua yang mungkin pada masa sahabat, mungkin pula pada masa kini. Masyarakat dewasa ini bukanlah masyarakat masa lampau. Rasulullah saw. pun tahu akan hal itu. Karena itu, belaiu tidak segan-segan mengadopsi sejumlah adat-istiadat masyarakatnya seperti pola berpakaian dan pengobatan (halaman 111).

Para penyiar Islam sebagai agama dan negara selalu menyampaikan slogan-slogan seperti “Wahai Negara Islam, Kembalilah!”; Islam Adalah Solusi”; Islam, Mesti Islam!”.

Dalam konteks pernyataan tersebut, menurut Fouda, bahwa penyiar negara Islam menjadikan agama dan politik adalah dua wajah dari satu koin yang sama.  Dan ungkapan-ungkapan seperti ini adalah merupakan ungkapan sentimental dari slogan Ikhwanul Muslimin.  Mereka mengatakan bahwa Islam adalah agama dan negara, mushaf dan pedang dan seterusnya. Ungkapan seperti ini sudah sangat jauh dengan esensi ajaran Islam yang universal dan berkemajuan.

Dari sinilah perdebatan menemukan medan baru, yaitu medan pencarian kebenaran sekaligus medan pertarungan politik.  Beranjak dari itu,  perdebatan beranjak ke pertanyaan: selagi mereka menggaungkan slogan perlunya  negara Islam dan mendapatkan pengikut di dalam partai-partai  politik yang ada, dan mereka mengajak kita menuju negara agama yang diperintahkan berdasarkan Islam, mengapa di waktu yang sama mereka tidak mengajukan kepada kita rakyat kebanyakan ini  agenda politik yang terperinci? Agenda politik terperinci itu akan menjadi panduan mereka untuk memerintah kita dan diandaikan pula dapat memberi jalan keluar terhadap berbagai problem kita, seperti sistem pemerintahan dan tatacaranya, agenda reformasi di bidang politik, ekonomi, kebudayaan dan juga soal perbaikan sistem pendidikan, soal perumahan dan tata cara menuntaskan persoalan itu dari sudut pandang Islam (halaman 14).

Pada posisi ini, nampaknya Farag Fouda ingin mengatakan bahwa zaman saat ini tidak relevan lagi sistem khilafah diterapkan. Sebab zaman telah berubah dan tuntutan kehidupan semakin kompleks. Artinya, bahwa para penyiar sistem khilafah tidak mampu membangun sebuah sistem negara yang mampu menjawab tantangan zaman kekinian. Ia lebih sepakat jika demokrasi diterapkan sebagai sistem di negara Mesir. Karena dalam sejarah khilafah tidak bertahan lama dan telah gagal.

Untuk membuktikan argumentasinya, Fouda mengemukakan fakta sejarah yang sangat mengerikan dan pernah terjadi pada masa Khulafa’ al-Rasyidin, Bani Umayyah, dan Bani Abbasiyah. Bahwa pada masa Khulafah al-Rasyidin di masa kepemimpinan Abu Bakar, Umar Utsman dan Ali banyak terjadi keributan, perpecahan bahkan pembunuhan sesama umat Islam. Bahkan dari keempat khalifah tersebut hanya Abu Bakar yang meninggal dalam keadaan baik. Umar meninggal dibunuh oleh seorang anak belia Majusi sedangkan Utsman dan Ali meninggal dibunuh oleh umat Islam sendiri. Begitupun  di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Dinasti Umayyah di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sofyan banyak terjadi kekacauan bahkan saling membunuh. Dan kepemimpinan yang ia wariskan kepada para anak-anaknya diselewengkan dari nilai-nilai ajaran Islam. Kehidupan anak-anak Amirul Mukminin ini jauh dari ajaran Islam. Kemudian di masa Dinasti Abbasiyah juga terjadi praktik kejahatan dan kesewenang-wenangan. Al-Saffah adalah pemimpin pertama di masa ini. Amirul Mukminin ini yang selalu dipuja puji ternyata memiliki perbuatan yang keji. Begitupun dengan anak-anak keuturunannya yang mewarisi kepemimpinannya jauh dari ajaran Islam. Dan pada akhirnya kedua Dinasti ini jatuh dan bubar.

Fouda menjelaskan bahwa masa kejayaan Khulafa’ al-Rasyidin hanya bertahan tiga puluh tahun hijriyah atau dua puluh sembilan tahun lima bulan masa Khulafa’ al-Rasyidin. Masa kepemimpinan Abu Bakar berlangsung selama 2 tahun, 3 bulan, dan 8 hari. Kepemimpinan Umar berlangsung  selama 10 tahun 6 bulan dan 19 hari. Masa Utsman berlangsung selama 11 tahun 11 bulan dan 19 hari. Lalu ditutup masa Ali sepanjang 4 tahun 7 bulan (halaman 31).

Mereka yang berjuang menerapkan sistem khilafah an sich perjuangan politik dan ingin bargaining untuk meraih kekuasaan bukan atas dasar memperjuankan akidah. Oleh karena itu, para pejuang khilafah di Mesir mereka berani menumpahkan darah menggunakan pedang. Yang ironis adalah mereka berani membunuh saudaranya sendiri atas tuduhan kafir yang mereka sematkan.

Pada bagian penutup, Fouda menjelaskan bahwa agama dan politik harus dipisahkan. Sehingga, agama tidak bisa dijadikan alat untuk merampas kekuasaan. Sebab, fakta sejarah mulai dari masa Khulafa’ al-Rasyidin, Umayyah dan Abbasiyah sistem khilafah telah mengalami kegagalan. Pemisahan agama dan politik adalah  jalan satu-satunya  menjaga keutuhan nasional, dan pertautan keduanya justru menjadi jalan tercepat meruntuhkan sendi-sendi persatuan. Pemisahan antar agama negara juga bagian dari praktik toleransi Islam.

Namun, pada akhir buku Fouda memuji para Khulafa’ al-Rasyidin bahwa mereka adalah sahabat Rasulullah saw. yang tingkat keimanan dan keilmuan jauh lebih mulia. Namun dari sisi politik dan ketatanegaraan belum ada dasar pijak yang jelas untuk menerapkan sistem khilafah. Akhirnya, para sahabat Nabi sendiri yang menjadi korban di tangan umat Islam sendiri.

Buku karya Farag Fouda ini melihat sejarah praktik politik dan kekuasaan Islam dari perspektif yang lain. Dan buku ini juga sebagai kritik terhadap kelompok Islam di Mesir yang ingin mendirikan negara Islam. Kalau pada buku-buku sejarah peradaban Islam yang lain menjelaskan Khulafa’ Al-Rasyidin, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyyah dengan penjelasan yang ideal dan baik maka berbeda dengan kebenaran yang hilang Fouda ini. Karena itu, penting membaca Fouda untuk memperkaya khazanah intelektual di bidang sejarah peradaban Islam. *

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here