Oleh: KH Rakhmad Zailani Kiki

Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL)

Di dalam Islam, ada pengertian adab dan akhlak. Arti adab adalah tata krama, sopan santun. Sedangkan akhlak adalah adab, tatakrama atau  sopan santun yang menjadi kebiasaan atau dilakukan berulang-ulang  Adapun misi  kenabian Muhammad shalallaahu `alaihi wasallam adalah untuk menyempurnakan kemulian akhlak atau adab yang meniadi kebiasaan. Rasulullah shalallaahu `alaihi wasssallaam  bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

(HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallaahu `anhu. ).

Dalam memahami misi kenabian Muhammad shalallaahu `alaihi wasallam ini, sebagian ulama, sebagai pewaris Nabi shalallaahu `alaihi wasallam, telah menyusun panduan adab yang menjadi pedoaman bagi umat Islam, di antaranya adab kepada pemerintah dan polisi.

Salah satu ulama yang menyusun panduan adab tersebut adalah seorang ulama Betawi asal Arab Yaman, Hadhramaut, Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi.  Beliau menyusun sebuah kitab adab yang berjudul Adab Al-Insan atau Adabul Insan yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti adab manusia. Beliau sendiri mengartikan judul kitabnya ini dengan kelakuan yang terpuji bagi manusia, kelakuan orang baik. Di dalam kitab Adabul insan   pasal yang ketiga membahas tentang adab orang kecil (rakyat) punya kelakuan yang patut kepada orang besar (pemerintah dan polisi).  Berikut saya uraikan isi pasal tersebut yang masih menggunakan bahasa asli dari kitab tersesbut:

Bermula patut atas sekalian orang yang duduk di bawah teduh keadilan bahwa sekalian itu mesti ingat baik-baik akan keadilan punya kebajikan atas sekalian  dan patut sekalian akan menerima kasih (berterimakasih, pen) banyak dengan segala kehormatan atas keadilan punya kasihan memelihara akan kita sekalian hingga kita dapat segala kenangan atas kehidupan kita dan atas memelihara akan anak bini kita dan atas menjalankan agama kita dengan tiada ada yang berani menyakiti atas kita atau atas agama kita atau harta kita, maka sekalian itu dapat dari pemerintahan punya kekuatan dan punya menjalankan keadilannya atas rakyat sekalian adanya.

Adapun yang dikata orang yang menerima kasih yaitulah orang menuruti perintah negara serta menjauhkan segala larangan dengan kelakuan orang yang baik-baik yang terpuji di mata orang baik-baik, maka bukan ia orang yang cuma berkata terima kasih padahal ia melanggar perintah negara adanya.

Sebagai lagi orang yang tiada dapat ingat akan keadilan punya baik kepada anak-anak negeri, maka sekira-kiranya jikalau ia dapat tinggal di dalam suatu dusun yang tiada ada polisi di dalamnya, maka tentulah ia dapat takut atas jiwanya dan atas hartanya dan atas anak bininya dan apabila ia mendapat suatu kesusahan atau kegagahan daripada manusia, maka tiadalah ia dapat yang menolong akan dia, maka ketika itulah baru ia mengerti dan ia dapat ingat akan kesenangan orang-orang yang duduk di bawah teduh keadilan pemerintahan.

Adapun umpamanya itu seperti orang yang dapat kedatangan kemiskinan hingga melarat, ketika itulah ia dapat ingat kekayaan punya senang dan demikian pula sepertinya orang yang dapat sakit badan ketika itulah ia dapat ingat kesegarannya badan punya enak. Maka dari itu diketahui bahwasanya paling jahat manusia yaitu yang tiada berterima kasih kepada keadilan dengan melanggar larangannya atau perintahnya, maka patut dikata bahwa orang itu paling jahat sebab dia membalas jahat kepada yang membuat kebaikan kepadanya. Dan patut pula dikata akan orang itu paling bodo, sebab dia tarik kecelakaan atas dirinya sendiri adanya.

Sebagai lagi orang yang melanggar aturan negeri dengan sangkanya atau pikirannya yang pendek bahwa ia nanti boleh dapat suatu keuntungan bagi dirinya, maka sebenarnya itu dia mesti dapat kecelakaan atas dirinya maka upamanya itu ibarat seorang yang dilarang oleh yang memeliharakannya atas berjalan di dalam suatu jalan yang ada di dalamnya segala barang tajam dan segala lubang, maka  ia berjalan juga dengan sengaja hingga ia dapat luka dan jatuh di dalam lubang, maka semuanya itu dari karena dia punya salah sendiri melanggar larangan yang memeliharakan dia.

 

Di pasal ketiga tersebut Habib Utsman bin Yahya sangat jelas menyatakan bahwa orang baik, orang yang beradab adalah orang yang pandai berterima kasih kepada negara dan menuruti perintah negara serta menjauhkan segala larangan negara. Negara yang dimaksud oleh Habib Utsman bin Yahya di  pasal ketiga ini adalah pemerintah dan polisi karena beliau menyebutkan kata polisi dengan jelas di pasal ini.

Menurut Habib Utsman bin Yahya bahwa rakyat harus mentaati dan berterima kasih kepada pemerintah dan polisi karena keduanya menjadi pelindung bagi rakyat, tempat rakyat mendapatkan keadilan  dan menjaga rasa aman dan kebahagiaan bagi rakyat. Beliau mengibaratkan seorang lelaki, kepala rumah tangga,  yang tinggal di sebuah dusun atau kampung yang tidak ada polisi, maka tentu timbul rasa tidak aman, khawatir dan ketakutan dalam diri orang ini karena jiwanya, hartanya, anak dan istrinya selalu terancam dari kejahatan orang lain.  Jika orang lain berbuat jahat kepada dirinya, hartanya, anak dan istrinya, tidak ada yang menolongnya selain polisi. Maka orang yang memiliki adab, berkelakukan baik, selalu mengingat hal ini.

Sebaliknya, orang yang tidak beradab atau tidak berkelakukan baik, menurut Habib Utsman bin Yahya, adalah orang tidak pandai berterima kasih kepada negara. Orang seperti ini kerap melakukan pelanggaran terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah bahkan meremehkan dan merendahkan keberadaan dan tugas polisi. Orang seperti ini diibaratkan oleh Habib Utsman bin Yahya sebagai orang yang dilarang oleh majikan atau atasannya untuk tidak melewati jalan yang banyak benda tajam dan berlubang, tetapi orang ini tetap saja melewatinya sehingga terluka karena benda tajam dan terperosok ke dalam lubang akibat kesalahannya sendiri, bukan karena kesalahan pemerintah atau polisi.

Semoga kita semua tetap berada dalam golongan orang-orang yang  beradab, senantiasa berkelakukan baik dalam rangka ibadah mengikuti sunnah Rasulullah shalallaahu `alaihi wassallam, yaitu terus menerus berperan dalam misi kenabian dalam  beradab dan menjaga kemulian akhlak. Aamiin yaa Arhamarraahimiin. *

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here